Minggu, 08 Januari 2012

PERAN INDONESIA DI ASEAN



Kata Pengantar
Asean  adalah suatu wadah bagi Negara- Negara di kawasan asia tenggara untuk menjalin kerja sama dibidang ekonomi, politik dan keamanan. Sebagai wadah yang menjalankan fungsi tersebut terdapatlah didalamnya obyek yang berperan sebagai penjalannhya. Diantaranya adalah Negara Indonesia yang sangat berperan dalam berjalannya asean dari berdiri sampai sekarang. Seberapa jauh peran Indonesia di asean adlah pembahasan dari makalah ini, serta apa saja peran Indonesia dalam asean.
Dimulai dari meningkatnya suhu geopolitik dan geokonomi di kawasan asia tenggara, maka para pemimpin Dari masing- masing Negara asia tenggara berkumpul membentuk asean. Sebelumnya, Untuk mewujudkan gagasan para pemimpin tersebut beberapa inisiatif yang telah dilakukan, antara lain, dalah pembentukan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (Association of Southeast Asia (ASA), Malaya–Philippina–Indonesia (MAPHILINDO), Traktat Organisasi Asia Tenggara (South East Asia Treaty Organization/SEATO), dan Dewan Asia-Pasifik (Asia and Pacific Council/ASPAC). Meskipun mengalami kegagalan, upaya dan inisiatif tersebut telah mendorong para pemimpin di kawasan untuk membentuk suatu organisasi kerja sama di kawasan yang lebih baik. Untuk itu, Menteri Luar Negeri Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand melakukan berbagai pertemuan konsultatif secara intens sehingga disepakati suatu rancangan Deklarasi Bersama (Joint Declaration) yang isinya mencakup, antara lain, kesadaran perlunya meningkatkan saling pengertian untuk hidup bertetangga secara baik dan membina kerja sama yang bermanfaat di antara negaranegara di kawasan yang terikat oleh pertalian sejarah dan budaya. Untuk menindak lanjuti deklarasi tersebut, pada tanggal 8 Agustus 1967, bertempat di Bangkok, Thailand, lima Wakil Negara/ Pemerintahan negara-negara Asia Tenggara, yaitu para Menteri Luar Negeri Indonesia – Adam Malik, Wakil Perdana Menteri merangkap Menteri Pertahanan dan Menteri Pembangunan Nasional Malaysia – Tun Abdul Razak, Menteri Luar Negeri Filipina – Narciso Ramos, Menteri Luar Negeri Singapura – S. Rajaratnam, dan Menteri Luar Negeri Thailand – Thamat Khoman melakukan pertemuan dan menandatangani Deklarasi ASEAN (The ASEAN Declaration) atau Deklarasi Bangkok (Bangkok Declaration).
Indonesia yang termasuk sebagai pemrakarsa asean dengan Negara- Negara asia tenggara lainnya terus berperan dalam pengembangan asean hingga menjadi tuan rumah Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) Asean. Selain itu Indonesia juga berperan dalam penyelesain kasus yang terjadi di Negara asia tenggara, serta tidak kalah pentingnya peran Indonesia dalam mencapai tujuan bersama asean menuju ekonomi maju yang dirancang dengan nama asean economic community (AEC).

Rumusan Masalah
dalam memperjelas tujuan dan inti dari makalah ini, maka dalam rumusan masalah akan dipaparkan apa saja yang akan dibahas dan didalami secara jelas dan rinci. Adapun rumusan masalah tersebut setidaknya ada 5 poin:
1.      Bagai mana peran Indonesia di ASEAN?
2.      Kapankah Indonesia sebagai tuan rumah KTT ASEAN?
3.      Kontribusi apa yang diajukan Indonesia dalam KTT ASEAN?
4.      Bagai manakah peran Indonesia dalam menyelesaikan kasus Kambodia?
5.      Apa peran Indonesia dalam memajukan ekonomi di ASEAN?
Kerangka Teori
1. Teori peran
Teori peran (role theory) adalah pelaku yang akan dilakukan oleh seseorang yang menduduki suatu posisi. Yaitu perilaku yang diletakkan pada suatu posisi diharapkan berprilaku sesuai dengan sifat posisinya tersebut. Teori peran menjelaskan bahwa perilaku politik adalah perilaku dalam menjalankan peran politik , teori ini berasumsi bahwa sebagian besar perilaku politik adalah akibat tuntutan dari luar atau harapan terhadap peran yang kebetulan dipegang oleh seorang actor.[1]
Menurut john watilke, teori peran memiliki dua kemampuan yang berguna bagi analisa politik yaitu:
1.      Menunjukkan bahwa actor politik pada umumnya menyesuaikan perilakunya dengan norma perilaku yang berlaku dalam peran yang dijalankannya.
2.      Teori peran mampu mendeskripsikan institusi secara behavioral. Dalam pandangan teoritis peran institusi politik adalah serangkaian pola perilaku yang berkaitan dengan peran.[2]
Model teori peran lansung menunjukkan segi perilaku yang membuat suatu kegiatan menjadi institusi.  Yang mana Indonesia sebagai ketua asean akan berperan sebagai pimpinan dari asean tersebut, dan Indonesia akan menyesuaikan diri sebagai peran yang dilaksanakannya. Oleh sebab itu dalam melaksanakan tugas sebagai ketua Indonesia harus mempertimbangakan segala masukan dan pengambilan keputusan untuk terjalainnya kedinamisan asean.maka dengan teri peran ini juga yang membedakan antara individualistic dengan kelompok, yaitu menjembatani sifat dalam kondisi sendiri dan sifat dalam berkelompok.
2. Teori kepentingan
Dalam teori kepentingan bangsa ini diambil dari pokok pikiran jack C.Plano dan roy olton kepentingan nasional yaitu “ the fundamental objective and ultimate determinant that guides the decision makers of state in making foreign policy”[3].
Dalam pokok pikiran jack dan roy ini dapat diketahui bahwa kepentingan nasional itu merupakan suatu hal yang sangat penting bagi Negara karena hal tersebut akan menjadi suatu pijakan untuk membuat keputusan atau kebijkan luar negeri suatu negara.
Jack dan roy juga memencamtumkan idenya tentang kepentingan nasional menjadi 5 elemen penting dalam kepentingan nasional:
1.      Pertahanan diri (self preservations)
2.      Kemandirian (independence)
3.      Integritas territorial ( territorial integrity)
4.      Keamanan militer (military security)
5.      Kemakmuran ekonomi (economic well- being)[4].
Maka dari 5 elemen tersebut dapat disimpulkan bahwa kepentingan nasional harus dapat memenuhi kebutuhan Negara dan dapat memberikan solusi bagi permasalahan dalam ataupun luar Negara tersebut.
Sedangkan hans J. Morgenthaw berpendapat tentang kepentingan nasional bahwa “ kepentingan suatu Negara mengejar kekuasaan yaitu apa saja yang bias membentuk dan mempertahankan pengendalian suatu Negara atas Negara lain. Hubungan kekuasaan ataupun pengendalian ini bisa diciptakan melalui cara paksaan maupun kerjasama antar negara[5].
Maka jelaslah Indonesia sebagai ketua asean harus mempunyai kepentingan untuk memajukan negaranya. Sebalik itu sifat dari Indonesia harus sesuai dengan perannya sebagai ketua yaitu untuk kepentingan bersama, akan tetapi tidak menghilangkan kepentingan pribadi/ nasionalnya.


[1] Mochtar mas’oed. Studi hubungan internasional: tingkat analisa dan teorisasi. Yogyakarta. Pusat studi antar universitas- studi social ugm. 1989    hal.44
[2] Ibid-
[3] Plano , jack C. and roy olton. International Relations Dictionary. USA. 1967
[4] Ibid. -
[5] Hans J.Morgenthaw. politik antar bangsa. Yayasan obor Indonesia. Jakarta. 1990

SEJARAH RUSSIA DAN CECHNYA

Konflik yang terjadi di Chechnya sangat berpengaruh terhadap hubungan antara orang Rusia dan orang Chechen (penduduk Chechnya). Krisis Beslan pada tahun 2004 lalu merupakan puncak ketegangan antara bangsa Rusia dan bangsa Chechen. Berikut tahapan-tahapan dalam sejarah perlawanan bangsa Chechen terhadap Rusia:
Periode Pertama
Dimulai pada pertengahan abad 16 dan berakhir pada akhir abad 17, ditandai dengan kolonisasi yang damai di daerah tersebut. Ciri khas daerah ini pada masa itu adalah hubungan sekutu antar vassal (daerah kekuasaan dengan raja-raja kecil yang berkumpul menjadi satu kesatuan di bawah penguasa yang lebih besar) yang dipimpin oleh pemimpin-pemimpin bangsa Chechen dengan keluarga Tsar di Moscow. Moskow sudah mulai bermaksud meluaskan pengaruhnya di bidang politik dan ekonomi. Pada masa itulah banyak penduduk dan pemimpin Chechen yang tertarik dengan pendekatan-pendekatan Moskow, dan mulai mengakui (dengan sukarela) kekuasaan Moskow di daerah mereka.
Periode Kedua
Masa ini terjadi selama abad ke 18, ditandai dengan ekspansi militer pertama Rusia ke wilayah Utara pegunungan Kaukasus. Di bawah pimpinan Peter I, dan kemudian Catherine II, Rusia mulai berhasil mengkolonisasi daerah pegunungan itu.
Walaupun perlawanan rakyat Chechnya telah dimulai pada tahun 1781, namun baru pada tahun 1785 perlawanan Chechnya terhadap terjangan Rusia mulai terasa ketika berada di bawah pimpinan Sheikh Mansur. Pada masa itulah bangsa Chechen mulai membangkitkan perlawanan bersenjata mereka guna memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan mereka. Sheikh Mansur-lah yang dikenal pernah mencoba untuk menyatukan daerah Utara Kaukasus menjadi satu negara Islam yang merdeka dari Rusia, namun tidak berhasil,namun namanya masih tetap dikenal hingga sekarang.
Gerakan anti kolonial Chechnya ini dimulai oleh orang-orang dataran tinggi, yang kemudian dengan cepat menyebar ke daerah-daerah lain. Perlawanan ini biasanya dilakukan oleh orang-orang dari golongan bawah yang merasakan ketidakadilan dalam pemerintahan. Pada awalnya kaum usahawan dan bangsawan setempat juga ikut menyumbangkan andil mereka lewat bantuan logistik dan sumbangan orang-orang pekeja mereka dalam peperangan, namun sejak mulai dicanangkannya gerakan anti-feodal oleh Sheikh Mansur, mereka mulai bergabung ke dalam faksi-faksi yang pro-Moskow. Imam pertama ini berjuang hanya sekitar 6 tahun saja, dan meninggal ketika tentaranya kalah di benteng Schulsselburg pada tahun 1791.
Periode Ketiga
Hubungan antara bangsa Rusia dan Chechen bertambah retak pada awal abad ke-19, ketika Jenderal A.P. Yermolov menjadi pemimpin pasukan Rusia di wilayah Kaukasus itu, dimana tentara Tsar mulai masuk ke daerah-daerah terkecil Chechnya sekalipun. Pasukan perlawanan Chechnya saat itu dipimpin oleh Beibulat Taimiev, yang sudah berkuasa selama 30 tahun, dimana ia dinilai sangat berhasil mempersatukan sebagian besar bangsa Chechen ke dalam satu kesatuan perlawanan. Ia juga mempunyai impian dengan menyatukan gerakan perlawanan Chechnya-nya dengan pemimpin-pemimpin feodal dari Utara Kaukasus yang sudah retak. Ia kemudian diajak berunding, dengan tujuan menghindari perang besar yang berkelanjutan dengan Rusia, tanpa mengesampingkan keinginan Chechnya untuk merdeka, demi kebebasan bangsanya. Namun ajakan damai itu ternyata merupakan muslihat pihak Rusia, dan diakhri dengan pembunuhan yang semakin menyulut perlawanan Chechnya yang lebih besar.
Tahun 1828 menjadi titik tolak dari perang Kaukasia. Perlawanan kaum pro-kemerdekaan dari daerah dataran tinggi Chechnya dan Daghestan mulai dipengaruhi “muridisme” yang membuat pemimpin-pemimpin gerakan perlawanan semacam Imam Gazi-Magomed, Gamzat-Bek, Shamil, dan Tashov-Khadzi mulai mengobarkan ‘gazavat’, semacam perang jihad. Tahun 1834 Imam Shamil berhasil mewujudkan impian Sheik Mansur dengan menyatukan bagian-bagian dari orang-orang gunung Kaukasus Utara dalam satu perlawanan melawan kekuasaan Rusia dan mendirikan pemerintahan teokratis Sharia, yang dikenal dengan nama imamat selama 27 tahun.
Pada tahun 1859 Shamil mengalami kekalahan dan menjadi tahanan istimewa dari Tsar Alexander II. Rakyat Chechnya kemudian berada di bawah kekuasaan administrasi militer Moskow, namun mendapatkan otonomi dalam permasalahan regional mereka seperti yang dijanjikan oleh Tsar kepada Shamil. Ketika Perang Dunia I pecah, Rusia membuat perjanjian dengan Turki Ottoman, dimana mereka akan mendapatkan bantuan dari penduduk setempat, yang kemudian dikirimkan sebagai bala tentara yang kuat, dan Rusia mendapat keuntungan dengan berkurangnya risiko perlawanan dengan berkurangnya bangsa Chechen yang gampang bergolak.
Menyadari akal Rusia, bangsa Chechen mulai bergolak lagi, dan ditanggapi secara preventif oleh pasukan Tsar dengan menghilangkan, mengasingkan, maupun mengusir para pemimpin perlawanan. Pada kenyataannya hal ini tidak berpengaruh, karena rakyat Chechnya mulai berkaca dan menyadari bahwa hukum kebebasan yang berlaku pada rakyat Kekaisaran Rusia tidak berlaku terhadap mereka. Chechnya diperintah oleh kekuasaan militer yang sangat tidak adil dan manusiawi.
Mengamati penyebab dari Perang Kaukasia ini, dapat dilihat ini akibat dari ekspansi tentara rezim tsar, dan tidak lepas dari konflik internal antar pemimpin Chechnya yang menginginkan kekuasaan dan pengaruh di antara rakyat dataran tinggi/gunung. Perlawanan kaun separatis Chechnya (yang biasanya berasal dari etnis-etnis keras dan golongan Islam garis keras) selama berusaha memisahkan diri dari Rusia selalu mendapat perlawanan dari saudara mereka sendiri yang lebih pro-Rusia (biasanya berasal dari pemimpin-pemimpin yang sekuler maupun kaum agamis yang tradisional). Perlawanan ini juga tidak erlepas dari keadaan Chechnya yang sedari dulu diliputi kemiskinan, padahal daerah mereka kaya akan hasil-hasil tambang dan pertanian, yang hasilnya tidak pernah mereka nikmati sendiri. Hal ni menunjukkan sistem pemerintahan kolonial yang tidak baik dan campur tangan dari penguasa-penguasa setempat.
Peperangan antara bangsa Rusia-Chechen ini membuat kita menyadari bahwa telah terjadi ketidaksamaan tujuan dari pemimpin-pemimpin setiap pihak tentang bagaimana bentuk daerah Chechnya semestinya. Terlebih sentimen yang muncul disebabkan oleh perbedaan religiusitas. Gangguan dan kekerasan yang banyak terjadi sejak pertama kalinya pendudukan Rusia mengusik pola kehidupan tradisional bangsa Chechen yang sangat dipengaruhi agama mereka, Islam, sebagai agama minoritas di Rusia. Maka tidak heranlah perlawanan dengan gampangnya bergolak karena didasari oleh semangat anti kafir yang diteriakkan lewat jihad yang mereka namakan gazavat.
Seperti yang terjadi di saat Rusia mengerahkan kekuatan penuh untuk membungkam kekuatan nasionalis Chechnya di mana memang hanya sedikit yang berpatisipasi langsung dalam peperangan itu, namun mereka semua (bangsa Chechen) merasa berperang melawan Rusia. Bahkan karena terjadi konflik kepentingan internal, terjadi juga perang saudara, atau bahkan tidak memilih, yang berarti melawan kedua kekuatan, Rusia dan Chechen.
Periode Keempat
Dimulai pada akhir abad ke-19, dimana secara konstitusional Chechnya merupakan bagian dari Rusia, pada masa ini rezim tsar di Chechnya banyak melakukan penipuan dan perampokan semena-mena. Hal ini dengan cepat ditanggapi oleh pemerintahan tsar yang mulai berpikir bahwa kekerasan tidak akan berhasil mengatasi masalah orang-orang gunung ini. Yang diperlukan adalah kebudayaan dan modernisasi, yang dituangkan dengan jalan membentuk kesatuan polisi daerah dari orang-orang Chechen yang tunduk kepada Rusia, dan mendirikan sekolah Rusia di sana, yang secara tidak langsung mengajak orang-orang gunung untuk lebih memfokuskan diri kepada perekonomian, bukan lagi perang semata. Di Grozny minyak bumi mulai disedot dan disuling, jalur kereta api dibuat. Pada masa ini pulalah kekuatan Chechnya dikomandoi oleh Kunta-Khadzhi, Solet-Khadzhi, Deni-Sheikh Arsanov, Bammat-Girei Mitaev, Ali Mitaev, Sugaip-Mulla, dan penganut agama Islam tradisional mereka saja. Masa ini juga dikenal sebagai masa damai yang dikarenakan kondisi pemerintahan yang mulai melonggarkan peraturan pendudukan etnis yang menandakan gerakan liberasisasi sistem sosial Rusia menuju monarki konstitusional.
Para pemuka Chechnya saat ini mencoba berkompromi dengan membiarkan pembangunan berjalan terus di daerahnya, dan mengikutsertakan pejuang-pejuang tangguhnya dalam hampir semua perang Rusia, walau dengan perlakuan diskriminatif terhadap etnis mereka yang terus berlangsung. Dalam peperangan ini, khususnya melawan Turki, Jepang, dan Jerman, resimen Chechnya dan Ingush merupakan pasukan elite yang bahkan mendapatkan pujian dari Tsar Nicholas II sendiri.
Di tempat kelahiran mereka, awal abad ke-20 ditandai dengan tekanan-tekanan terhadap perlawanan orang-orang gunung yang tidak habis-habis, yang tentu saja dibalas dengan sikap berani mati oleh sebagian besar bangsa Chechen. Pada masa ini pula mulai berkembang pengaruh Partai Sosial Demokrat yang menyaingi ideologi Islam.
Periode Kelima
Ketika terjadi revolusi dan Perang Saudara (dari 1917 sampai 1925) Chechnya semakin panas, karena rakyatnya terbagi lagi menjadi tiga kubu:
1. Nasionalis yang menginginkan bergabungnya Chechnya ke dalam Soviet (Komunis).
2. Nasionalis Demokrat yang menginginkan bergabungnya orang-orang gunung dan tetangga Barat mereka ke dalam sebuah kesatuan negara.
3. Nasionalis radikal yang berorientasi hanya kepada Islam dan bersemangat menggabungkan Chechnya ke dalam Turki.
Perjuangan rakyat Chechnya banyak bermunculan, contohnya dengan usaha membentuk sebuah negara teokratik merdeka buatan Sheikh Uzunkhadzhi, juga pembuatan sebuah negara yang lebih sekuler (Repulik Mountaineers pada tahun 1918). Kedua-duanya memang gagal, namun pihak Chechnya lain yang tidak sependapat akhirnya memutuskan umtuk mengabdikan diri mereka kepada Sovyet yang menjanjikan kebebasan, persamaan, tanah, dan kekuasaan. Pada kenyataannya, slogan Sovyet pada masa revolusi “masa depan yang lebih baik” tidak pernah terwujud juga di Chechnya. Bangsa Chechen akhirnya angkat senjata juga pada masa razim Stalin. Kekacauan dan kerusuhan semakin berubah menjadi perang gerilya. Pada masa ini banyak terjadi genocide (pemusnahan banyak orang dalam satu waktu) dan pengusiran kepada beberapa petinggi Chechnya. Hampir 40% orang Chechnya yang hilang atau tidak jelas keberadaannya.
Setelah masa Stalin, muncul pemikiran untuk membangkitkan lagi Republik Mandiri Sosialis Sovyet Chechnya-Ingush, sebagai salah satu negara satelit Sovyet. Pejuang-pejuang lama yang dulu dibuang dan diasingkan semacam Vainakhs, kembali lagi. Yang patut disayangkan, betapa rehabilitasi wilayah dan politik bangsa Chechen dan Ingush tidak pernah diwujudkan.
Bangsa Chechen merasa bahwa mereka menjadi warga kelas dua di tanah leluhur mereka sendiri. Budaya tradisional Chechen dan Ingush dilarang penggunaan dan pengetahuannya, karen amenginginkan satu budaya yang sama, Rusia. Mengajar di sekolah ataupun instansi-instansi resmi harus menggunakan bahasa Rusia. Bahasa mereka pun secara langsung hanya digunakan di dalam rumah saja. Pembudayaan Rusia ini akhirnya menghanguskan budaya tradisional mereka.
Pada tahun 1960-an, muncul keberanian dari sebagian warga Chechnya untuk mengirim surat/petisi kolektif kepada Central Committee Partai Komunis di Moskow yang mengkritik sikap pemerintah daerah mereka terhadap kehidupan bermasyarakat dan berbudaya mereka. Tapi reaksinya sangat negatif, bahkan terkesan menutup mata atas apa yang terjadi di sana. Kejadian ethnocide ini akhirnya berlangsung selama 30 tahun, dan mematikan unsur-unsur dasar kehidupan suku bangsa Chechen dan Ingush, serta menimbulkan trama yang tidak gampang dilupakan bagi korban pemaksaan itu. Ketika kehormatan sosial sebagai bangsa mereka dicabut, kehormatan sebagai sutau bangsa diinjak-injak dan digantikan oleh ‘nasionalisme’ Rusia yang berusaha memasuki kehidupan mereka dengan cepat dan memaksa laksana kanker. Proses ini terus berlangsung, dan memuncak ketika disintegrasi Uni Sovyet terjadi tahun 1991, dan etnonasonalisme baru muncul.
Periode Keenam
Masa Gorbachev dengan perestroika, Uni Sovyet yang hancur memancing perang kemerdekaan baru bagi bangsa Chechen. Dipimpin oleh Jenderal Dzhokhar Dudayev, ibukota Grozny direbut pada tahun 1991. Proklamasi mereka diumumkan, namun tetap tidak diakui presiden Rusia terpilih, Boris Yeltsin. Keadaan memanas ketika sebelum Sovyet runtuh, Amerika Serikat ikur melatih laskar-laskar jihad melalui CIA untuk membangkitkan perlawanan di daerah-daerah Rusia, bahkan Osama bin Laden merupakan produk CIA. Dudayev yang meninggal akibat serangan roket tahun 1995, digantikan oleh Aslan Mashkadov yang terpilih pada 1997. Pada awal tahun 1999, ia menjadikan Syariah Islam sebagai hukum negara, yang memicu perpecahan di dalam gerakan perlawanan Chechnya sendiri.
Kemudian muncul tuduhan bahwa orang Chechen membantu gerakan perlawanan Islam di Dagestan, yang walaupun tanpa bukti yang kuat membuat Rusia melakukan serangan besar-besaran kembali. Bantuan ini diperkirakan memang pantas dilakukan mengingat keadaan geografis dan ikatan kultur-religius sesama Islam yang sedang tertindas Rusia. Perlawanan Chechnya ini diikuti juga serangkaian bom bunuh diri di kota-kota besar Rusia, yang sempat membuat ketakutan atas keberadaan etnis Kaukasus bagi orang awam. Respon pemerintah Rusia yang dipimpin Vladimir Putin sangat brutal, is memerintahkan perang skala besar dan pembumi hangusan daerah pertikaian, yang memaksa terjadinya pengungsian dan pembunuhan terhadap rakyat sipil. Tercatat 1,3 juta orang Chechen meninggalkan Chechnya yang sudah luluh lantah. Hal ini diperkirakan merupakan cara Rusia supaya lebih gampang menggempur Chechnya dengan anggapan bahwa yang tidak mengungsi adalah lawan mereka dan tidak perlu berpikir lagi. Bumi hangus dilakukan untuk mempersempit ruang gerak pasukan perlawanan gerilya. April tanggal 20 tahun 2000 ada tawaran gencatan senjata oleh Mashkadov, yang ditolak Rusia dengan alasan perlawanan mereka lebih kepada melindungi para kriminal dan penguasa setempat yang mangkir kepada pemerintahan Rusia. Dan pada bulan Juni di tahun yang sama, terjadi lebih banyak kontak senjata, serangan bom bunuh diri, dan gempuran dari pasukan gerilya Chechnya yang menunjukkan perjuangan mereka masih panjang.
Maret 2003 disetujui diadakan referendum untuk menentukan bagaimana Chechnya merdeka sebagai sebuah negara bagian dan akan bergabung ke dalam Federasi Rusia (sebenarnya masih merupakan kontradiksi dimana hasilnya sangat tidak populer dan masih dianggap sebagai sebuah kecurangan politik Rusia oleh dunia luar), yang akhirnya menyetujui konstitusi baru bagi rakyat Chechnya. Bulan Oktober di tahun yang sama Ahmad Kadirov, seorang kunci bagi Rusia untuk tetap berkuasa di Chechnya, terpilih menjadi presiden. 9 Mei 2004 saat Rusia merayakan hari kemenangan atas Jerman di Perang Dunia II, Kadirov dan beberapa orang terdekatnya terbunuh dalam serangan bom di stadion tempat ia menonton pertunjukan. Hal ini sangat mematahkan harapan Rusia. Kemudian serangan teror kembali berkecamuk di Rusia, yang dianggap berkaitan dengan masa pemilihan presiden baru bagi Chechnya.
Tapi kasus yang paling penting adalah di mana Rusia berusaha membebaskan sandera ratusan anak-anak yang berakhir dengan serangan ke dalam sekolah tanpa memedulikan hidup dari anak-anak tadi. Kontak senjata terjadi selama 10 jam yang mengakibatkan banyak bom terpicu dan meledakkan bebearapa bagian sekolah, dan menewaskan puluhan sandera. Hal ini mendapat kecaman betapa menunjukkan kekuatan Rusia yang kurang mahir dalam mengatasi negosiasi dengan teroris, yang mana ada indikasi no-compromice pemerintah Rusia dengan perlawanan Chechnya. Hal ini memancing kritik dari banyak negara yang justru mengecam Rusia akan geraka gegabahnya.

Kesimpulan
Melihat pergerakan rakyat Chechnya yang memang sudah membudaya untuk segera merdeka sangatlah menunjukkan bahwa masih terjadi sejarah kejadian kelam yang belum selesai hingga sekarang. Masalah utamanya adalah hubungan antara satu bangsa yang bertetangga, namun sangat memaksa (Rusia dan Chechnya). Terjadi konfrontasi permanen antara keduanya sejak abad 18 sekalipun belum selesai hingga sekarang, yang ditunjukkan dengan pergolakan yang terus tumbuh (degenerasi) dan muncul hampir setiap 40 tahunan sekali. Operasi militer yang terjadi di daerah itu hanya menambah urutan warga negara yang meninggal, tapi tidak menyelesaikan masalah.
Etnonasionalisme dianggap sebagai cara terbaik mengatasi semua masalah Chechnya ini. Kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi bangsa ini telah terpuruk sebegitu dalamnya. Perjuangan mereka ini selalu menemui hambatan oleh kekerasan yang dilakukan Rusia yang tidak rela melepas negara ini sejak berabad-abad yang lalu, yang sebagian besar disebabkan oleh letaknya yang strategis sebagai daerah benteng (Pegunungan Kaukasus) alami yang susah ditembus dari luar, sebagai daerah jalur pipa minyak Rusia, serta daerahnya yang cukup subur akan hasil-hasil alam, khususnya minyak tadi.

SISTEM PEMERINTAHAN RUSSIA

Model Sistem Pemerintahan Rusia 
 
       Semenjak perubahan besar yang terjadi, model sosialis telah kehilangan dayatariknya. Pemimpin-pemimpin Soviet tidak bisa lagi membujuk rakyatnya bahwamasa depan Komunisme yang cerah, ketika semua sama dan semua kebutuhandapat terpenuhi, akan tiba. Ketika sistem Komunis runtuh secara menyeluruh, halini mengindikasikan betapa sedikitnya dukungan terhadap komunisme. Akan tetapiternyata lebih mudah untuk membubarkan struktur komunis daripadamenggantikannya dengan struktur yang baru.Rezim Soviet mengambil alih kekuasaan pada tahun 1917 yang berniat untuk membentuk masyarakat sosialis di Rusia dan kemudian, menyebarkan sosialismerevolusioner ke seluruh dunia. Sosialisme, sebagaimana Partai Komunis Rusiamemahaminya, berarti suatu masyarakat tanpa kepemilikan pribadi dari produksi,di mana negara memilikinya dan mengawasi semua asset ekonomi yang penting dandi mana kekuasaan politik dilakukan atas nama masyarakat pekerja. VladimirIlyich Lenin (1870-1924) adalah pemimpin dari Partai Komunis Russia dan kepalapemerintahan Soviet Rusia yang pertama. 
 
        Pemerintahan Soviet membagikekuasaan antara soviets, yang merupakan organisasi melalui mana para pekerjadan petani menyuarakan kepentingan mereka. dan Partai Komunis yang mengatursoviets.Lenin menjamin bahwa struktur organisasi dari Partai Komunis memaksimalkanpengawasan dari pusat atas seluruh level pemerintahan. Partai sendiri dijaga untuk tetap kecil, menekankan bahwa keanggotaan partai merupakan suatu hak istimewadan suatu keharusan. Pada level yang lebih tinggi lagi, partai diorganisasikansepanjang garis teritorial. Setiap subdivisi daerah memiliki organisasi partai.Pada posisi puncak, kekuasaan terakhir untuk memutuskan kebijakan dipegangoleh Politbiro. Politbiro merupakan komite suatu kelompok kecil, senantiasamelakukan pertemuan secara teratur, yang beranggotakan sekitar 12 orangpemimpin-pemimpin negara yang paling kuat, yaitu: Sekretaris Jenderal PartaiKomunis, Ketua Lembaga Kementerian, beberapa sekretaris senior dari komitePusat PKUS, satu atau dua orang sekretaris pertama dari organisasi PartaiKomunis gabungan republik-republik, Menteri Pertahanan, Ketua KGB, danMenteri Luar Negeri.Kelemahan yang paling serius dari rezim terdahulu adalah ketidakmampuanmereka di dalam mengalihkan kekuasaan secara teratur dan damai dari satupemimpin ke pemimpin yang lain. 
 
        Kemudian, pemerintahan Mikhail Gorbachevyang sangat menekankan pada keterbukaan, glasnost, dalam hubungan antarapemimpin-pemimpin politik dan masyarakat, menekankan bahwa yang terpentingefektivitas partai sangat tergantung pada perbaikan ekonomi dari negara danmasyarakat. Awal tahun 1987, dia tidak hanya berupaya melaksanakandemokratisasi politik, tetapi juga menekankannya melalui suatu reformasi denganmengadakan pemilihan untuk pemerintahan lokal. Dia melegalisasi kepemilikan pribadi atas perusahaan dan kerja sama bisnis dan mendukung para pengusahauntuk memperkecil kesenjangan ekonomi akibat inefisiensi dari sektor negara.Radikalisme Gorbachev menerima dukungan yang begitu dramatis melaluiperkembangan yang begitu menakjubkan tahun 1989 di Eropa Timur. Semuapenguasa mengakhiri blok sosialis dan membuka jalan bagi rezim parlemen yangmulti partai melalui suatu revolusi tak berdarah (kecuali Rumania). BubarnyaKomunisme di Eropa Timur ini berarti ikatan-ikatan partai, kerjasama kepolisian,perdagangan ekonomi dan aliansi militer yang telah dibangun sejak Stalinmemaksakan Komunis atas Eropa Timur setelah Perang Dunia II, lenyap.Republik Rusia mempunyai konstitusinya sendiri dan membentuk Kongres Wakil-wakil Rakyat dan Supreme Soviet. 
 
        Dengan berakhirnya Uni Soviet, lembagaperwakilan ini menjadi organ utama dari kekuasaan legislatif. Boris Yeltsin dipilihsebagai presiden dari Federasi Russia pada bulan Juni 1991.Yeltsin menunjuk kepada model “Republik Presidensial”. Sebagaimana di Perancis,konstitusi mengakui dwi-eksekutif, di mana pemerintah memerlukan kepercayaandari parlemen, tetapi presiden tidak. Presiden diberi kekuasaan untuk mengumumkan keputusan-keputusannya dengan kekuatan hukum, meskipunkeputusannya tersebut melanggar hukum yang berlaku dan bisa ditolak olehparlemen. Presiden menunjuk perdana menteri atas persetujuan parlemen. Dumabisa menolak pilihan presiden tersebut, akan tetapi apabila sampai tiga kalikesempatan presiden gagal memperoleh persetujuan Duma maka dia dapatmembubarkan Duma dan menyelenggarakan pemilihan yang baru. Pembubaran juga dilakukan saat Duma tidak lagi memperoleh kepercayaan di dalampemerintah. Mosi tidak percaya yang pertama mungkin bisa saja diabaikan olehpresiden dan pemerintah. Akan tetapi, untuk yang kedua, presiden harusmembubarkan parlemen atau pemerintah. Kekuasaan presiden untuk membubarkan parlemen juga dibatasi oleh konstitusi. 
 
        Dia tidak dapatmembubarkan parlemen dalam satu tahun pemilihannya, atau ketika parlemenmempunyai tuntutan dakwaan atas presiden, atau ketika presiden menyatakankeadaan bahaya atas seluruh Russia, atau dalam enam bulan dari saat habisnya jabatan presiden.Berbeda dengan banyak sistem parlementer, di Russia pembentukan pemerintahtidak secara langsung ditentukan oleh komposisi partai di parlemen. Paling tidak,hubungan antara distribusi kekuatan partai dalam Duma dan keseimbangan politik pemerintah dihilangkan sama sekali. Sekalipun demikian, komposisi pemerintahantelah memperlihatkan upaya Presiden Yeltsin untuk membawa wakil-wakil partaipolitik dan aliran-aliran politik yang ada. .State Duma telah muncul sebagai sebuah lembaga yang aktif. Oposisi PresidenYeltsin dan kebijakan-kebijakannya lebih banyak di lembaga ini daripada sekutu-sekutunya, tapi tidak ada satu pun partai atau koalisi yang merupakan mayoritas. 
 
        Berbeda dengan Dewan Federasi, Duma diatur oleh faksi-faksi partai. Wakilmasing-masing faksi mengisi badan pengarah, yaitu Dewan Duma. Dewan Dumamembuat keputusan-keputusan dasar dalam Duma dengan menghormati agendalegislatif dan proses-proses yang tengah berlangsung di Duma, dan juga beberapaundang-undang. Duma juga memiliki 23 komisi di mana kepemimpinan dankeanggotaannya didistribusikan secara tidak merata untuk tiap-tiap faksi.